The Forest Scribe

Walaupun Memiliki Kelebihan, Ekspor Produk Kayu Indonesia ke UE Masih Rendah

Ilustrasi pemotongan kayu untuk ekspor Indonesia

Indonesia merupakan negara pertama yang mengekspor kayu yang dihasilkan secara legal ke Uni Eropa (UE), namun ekspor produk kayunya seperti furniture ke wilayah tersebut masih jauh dari potensi sebenarnya, beberapa pakar mengatakan Selasa (11/2).

Tri Nugroho, dari Program Kehutanan Multi-stakeholder (MFP) fase ke-empat, mengatakan bahwa Indonesia merupakan satu dari 15 negara pengekspor kayu tropis yang bermitra dengan UE dibawah rencana aksi E Forest Law Enforcement, Governance and Trade (FLEGT) dan merupakan negara pertama yang mengeluarkan lisensi FLEGT untuk kayu ekspor ke negara-negara anggota UE di tahun 2016.

“Seharusnya ini menjadi keuntungan bagi Indonesia, bisa mendapatkan pangsa pasar yang lebih baik. Pasar di Eropa mengharuskan kayu nya legal, tapi juga ada faktor desain, harga dan kualitas,” ujar Tri mengomentari mengapa ekspor produk kayu Indonesia masih jauh dari harapan.

Eropa menyerap sekitar sembilan persen dari ekspor produk kayu Indonesia, sedangkan China menyerap 28 persen, Jepang 12 persen dan Amerika Serikat 11 persen.

Iwan Wibisono, manajer program di MFP 4 mengatakan bahwa yang diperlukan adalah membangun “ekosistem industri furniture” yang baru, yang akan dapat memastikan produk ekspor dengan rancangan, harga dan mutu yang sesuai dengan yang diharapkan pasar.

“Kita juga tertinggal dalam hal inovasi,” imbuhnya.

Tri juga sepakat bahwa diperlukan ekosistem yang baru bagi industri furniture negeri ini, Ia juga menambahkan bahwa produk kayu untuk ekspor “harus dikemas dengan lebih baik. Sertifikat bagus, tetapi kalau produknya jelek, kemasannya jelek, ya susah,” ujarnya,

Ia mengatakan bahwa MFP 4 juga sedang menggunakan pendekatan yang berbeda untuk mengembangkan industri produk kayu domestik.

“Kami tidak memulainya dari sisi supply, tetapi dari sisi pasar. Ini adalah pendekatan yang baru,” ujar Tri, dengan menambahkan bahwa diharapkan dengan pendekatan ini, apa yang diproduksi dan diekspor akan sesuai dengan permintaan dan apa yang dibutuhkan pasar tujuan ekspor,

Iwan mengatakan juga industri furniture maupun pemerintah seharusnya juga melirik potensi pasar dalam negeri, tidak hanya terfokus kepada ekspor.

“Mungkin sudah waktunya untuk lebih serius perhatikan industri furniture dalam negeri. Mengapa kita tidak memperkuat rancangan bagi pasar dalam negeri,” ujarnya,

“Peluang pasar domestik juga menarik untuk digarap, mungkin sama seriusnya seperti menggarap pasar ekspor,” imbuhnya.

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Kelapa Sawit? Kunjungi The Palm Scribe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This