The Forest Scribe

Sapi Penyebab Terbesar Kehilangan Tutupan Pohon Dunia: WRI

Foto: PxHere

Sebuah analisis oleh World Resources Institute (WRI) memperlihatkan bahwa tujuh komoditas pertanian bertanggung jawab atas 26 persen kehilangan tutupan pohon dunia selama 2001 sampai 2015, dengan sapi di peringkat teratas, menghilangkan lebih dari empat kali luas kehilangan yang disebabkan sawit yang berada di peringkat kedua.

Dalam sebuah artikel yang diunggah pada laman resminya, WRI mengatakan bahwa analisis tersebut memperlihatkan ketujuh komoditas tersebut merubah 71,9 juta hektar hutan dalam periode itu, atau lebih dari dua kali luasnya negara Jerman. Ketujuh komoditas yang dianalisa tersebut bertanggung jawab atas 57 persen dari kehilangan tutupan hutan yang terkait pertanian dari 2001 sampai 2015.

“Dari ketujuh komoditas pertanian itu, penggembalaan sapi merubah hutan yang terbanyak – 45,1 juta hektar, atau daerah seluas Swedia. Sapi bertanggung jawab atas 16 persen dari kehilangan tutupan pohon total,” demikian WRI mengatakan.

Sawit berada pada posisi kedua jauh dibawahnya karena mengubah 10,5 juta hektar lahan hutan dalam kurun waktu yang sama. Kedelai menempati tempat ketiga dengan 8,2 juta hektar sementara Kakao berada di tempat keempat dengan hanya 2,3 juta hektar.

Konversi hutan untuk keperluan penggembalaan sapi terjadi lebih merata di seluruh dunia, tetapi titik titik utama berada di Amerika Selatan dan Tengah, sementara sawit mengakibatkan konversi hutan terutama di Indonesia dan Malaysia, serta kedelai mengkonversikan hutan di Amerika Selatan, seperti di Brazil dan Argentina.

Konversi hutan di dunia menjadi lahan penggembalaan sapi memuncak di tahun 2005 dengan 2,6 juta hektar, mencapai titik terendah dengan 2,415 juta hektar di tahun 2013 sebelum meningkat lagi menjadi 2.6 juta hektar di tahun 2015.

Karet perkebunan merubah 2,1 juta hektar lahan hutan, diikuti oleh kopi dengan 1,9 juta hektar dan pada posisi ketujuh, perkebunan serat kayu dengan 1,8 juta hektar. Tetapi WRI menambahkan bahwa analisa untuk karet dan serat kayu hanya meliputi beberapa negara saja karena keterbatasan data.

“Beberapa tahun belakangan ini, kedelai dan sawit, komoditas yang paling terkenal sebagai penyebab deforestasi, merubah lebih sedikit hutan dibandingkan dengan sebelumnya dalam sejarah mereka,” laporan tersebut mengatakan.

Laporan tersebut menyatakan laju perubahan lahan hutan yang disebabkan oleh sawit menurun drastis setelah 2012, sementara laju yang sama untuk kedelai turun secara dramatis setelah memuncak di tahun 2004.

Luas hutan keseluruhan yang diubah oleh sawit di dunia, secara langsung maupun tidak langsung, memuncak di tahun 2009 pada tingkat 1.318.480 hektar. Di tahun 2013, angka tersebut turun menjadi 585.860 hektar, kemudian 334.630 hektar di tahun 2014 dan akhirnya 218.990 hektar di tahun 2015.

Beberapa penelitian yang lain mengatakan penyebab menurunya laju deforestasi oleh sawit adalah menurunnya harga minyak sawit, kebijakan nasional untuk mengurangi pembukaan hutan serta komitmen nol-deforestasi korporasi. Walaupun penelitian hanya sampai 2015, Indonesia – produsen minyak sawit terbesar di dunia dan yang bertanggung jawab atas dua pertiga luas hutan yang berubah menjadi perkebunan sawit di dunia – mengalami penurunan kehilangan hutan primer tiga tahun berturut-turut – 2017, 2018 dan 2019;

Seperti halnya dengan sawit, penurunan laju deforestasi oleh kedelai bertepatan dengan harga yang rendah, kebijakan nasional dan inisiatif rantai pasok yang bebas deforestasi. Laju konversi hutan menjadi lahan kedelai naik di daerah Cerrado, Brazil di tahun 2012 tetapi kemudian menurun sedikit antara 2013 dan 2015. Brazil mengalami peningkatan kehilangan hutan primer menjadi lahan kedelai dari tahun 2015. 

Walaupun data mengenai perkebunan serat kayu dan karet lebih terbatas dibandingkan dengan komoditas lainnya, analisa memperlihatkan penurunan belum lama ini, dalam laju konversi hutan menjadi lahan perkebunan.  Penurunan ini bertepatan dengan penurunan harga karet dan komitmen nol-deforestasi dari kebanyakan perusahaan besar perkebunan serat kayu.

WRI mengatakan bahwa lembaganya tidak melihat perubahan berarti dalam laju konversi hutan menjadi padang penggembalaan sapi sejak tahun 2001, meskipun ada beberapa komitmen nol-deforestasi.

Deforestasi untuk penggembalaan sapi jauh lebih sulit ditangani dari dalam rantai pasok karena perluasan padang penggembalaan terjadi bahkan di beberapa tempat dimana margin keuntungannya sangat rendah atau malah negatif. Pada kasus kasus tersebut pemilik tanah mungkin mengkonversikan hutan sebagai bagian dari spekulasi tanah, untuk mendapatkan hak tanah, atau untuk sebab-sebab sosial budaya dan bukan demi keuntungan keuangan semata.

Konsumsi daging sapi juga cenderung lebih bersifat domestik dan hanya sekitar seperempat dari produksi daging di Brazil yang diekspor. Ini menjadikan rantai pasok daging sapi kurang dapat dipengaruhi oleh tekanan internasional terkait pengurangan deforestasi.

Komoditas pertanian lainnya yang memperlihatkan kemajuan terbatas dalam mengurangi deforestasi adalah kakao dan kopi, walaupun peta terperinci kedua komoditas tersebut agak sulit dibuat mengingat kakao dan kopi lebih sering tumbuh dibawah naungan pohon besar dan sulit dideteksi dengan pencitraan satelit.

WRI mengatakan bahwa masih terdapat jalan yang panjang sebelum dapat benar benar memahami dinamika rumit yang ada antara produksi komoditas pertanian dan deforestasi.

“Contohnya, analisis tidak dapat membuktikan apakah lahan terdeforestasi karena satu jenis tanaman tetapi hanya bisa membuktikan bahwa tanaman tersebut ditanam di kawasan yang sudah terdeforestasi.

“Kami juga tidak dapat menerangkan dampak tidak langsung satu komoditas pada komoditas lainnya dan juga pada hutan dunia, seperti ketika perluasan perkebunan satu tanaman mengakibatkan terdorongnya perkebunan tanaman lainnya kedalam hutan, atau mendorong peningkatan harga tanah,” ujar WRI

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Kelapa sawit? Kunjungi The Palm Scribe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This