The Forest Scribe

Pendamping Desa, Pemain Penting Dalam Memberantas Pembakaran Lahan

kebakaran hutan dan lahan

Toni Saputra, mungkin hanyalah seorang peternak ikan lele kecil-kecilan di sebuah desa di Riau. Tetapi ia kini berada di garda terdepan pemberantasan praktik membuka lahan dengan membakar yang selama ini selalu dipersalahkan sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan yang tiap tahunnya mewarnai musim kering di Indonesia.

Dengan mulainya beberapa daerah di Indonesia memasuki musim kering, termasuk di Riau, salah satu daerah yang terparah mengalami kebakaran hutan dan lahan tahunan ini menjadi penting bagi semua pihak, terutama para pendamping dan penyuluh yang langsung berinteraksi dengan para petani, untuk bersama-sama memberantas praktik penggunaan api dalam membuka lahan ketika mempersiapkan musim tanam yang baru.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan bahwa tahun ini musim kering di Riau, maupun di beberapa daerah lainnya seperti Sumatra Selatan, Jambi, dan di Kalimantan Tengah, Timur dan Utara, puncak musim kering diperkirakan akan terjadi di bulan Juni-Juli. BMKG juga memperkirakan bahwa Indonesia akan mengalami El Nino yang netral tahun ini, tetapi yang akan tetap meninggikan suhu lebih tinggi dari biasanya.

Toni, pemuda asli Perawang Barat berusia 26 tahun yang kuliah pertanian dan punya usaha ternak ikan lele  ini kini, merupakan pendamping program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang membantu pengentasan kemiskinan dengan memberikan peluang dan dukungan bagi berbagai usaha ekonomi rakyat di pedesaan.

Namun karena tugasnya yang mengharuskannya mendampingi petani dan berinteraksi dengan mereka dalam kesehariannya, ia juga merupakan salah satu pegiat di ujung tombak usaha pemberantasan praktik membuka lahan dengan membakar di Perawang Barat, sebuah desa berpenduduk sekitar 23.000 jiwa di Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, serta beberapa desa lainnya di sekitarnya.

Walaupun kebanyakan petani di Perawang Barat telah lama mendengar mengenai bahaya membakar lahan, dibutuhkan beberapa faktor, serta partisipasi berbagai pihak dari pemerintah di semua tingkat, perusahaan serta tokoh sosial, adat dan agama, untuk menanamkan kesadaran di antara penduduk bahwa praktik ini harus ditinggalkan.

Bagi Toni, salah satu faktor penting yang banyak membantunya dalam meningkatkan kesadaran akan dampak buruk membuka lahan dengan membakar, adalah karhutla besar-besaran yang terjadi di tahun 2015, termasuk di Riau. Karhutla menyebabkan kabut asap tebal yang tidak saja menutupi langit diatas beberapa daerah di Indonesia tetapi juta di atas beberapa negara tetangga. Asap tebal ini menyebabkan bahaya kesehatan maupun perhubungan yang luas, serta menghalangi aktivitas masyarakat di tempat terbuka.

Baca juga: Pejabat Peringatkan: Pandemi Covid-19 Akan Memperburuk Karhutla Tahun Ini

“Dampak asap di tahun 2015 itu luar biasa, jadi lebih mudah bagi kami untuk mengedukasi masyarakat,” demikian ujar Toni. 

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperlihatkan bahwa di tahun 2015 itu, kebakaran menghanguskan 2,61 juta hektar hutan dan lahan. Bank Dunia dalam sebuah laporannya, mengatakan bahwa kebakaran di tahun tersebut diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi mencapai Rp 221 triliun atau sekitar $16 juta. Kebakaran dan asap yang ditimbulkan juga mengakibatkan sekitar 600,000 orang menderita penyakit saluran pernapasan yang akut sementara lebih dari 60 juta orang terpapar asap berbahaya tersebut,

“Jangankan kerja di kebun, bernapas saja susah dan perih. Matahari juga tidak kelihatan. Kalau tidak ada matahari, tanaman hortikultura ya jadi hidup segan mati tak mau,” Listya Lasmono, salah seorang petani cabai keriting di Perawang Barat, ketika mengingat kebakaran besar tahun 2015. Kebanyakan petani di Perawang Barat menanam tanaman hortikultura, seperti cabai, pepaya dan berbagai tanaman umur pendek lainnya.

Lasmono, pria berkulit gelap berumur 40 tahunan itu, mengatakan bahwa tanaman hortikultura memerlukan paparan sinar matahari sekitar sembilan jam setiap harinya, tetapi ketika asap kebakaran hutan dan lahan menghalangi sinar matahari, tanaman menjadi layu, dan hasilnya panen menjadi rusak dan bahkan gagal.

Ia mengatakan ia kini sudah tak lagi membakar lahannya ketika mempersiapkan lahan untuk musim tanam yang baru. Ia menambahkan bahwa kebanyakan petani hortikultura lainnya , terutama yang anggota perkumpulan petani yang sama dengannya, juga sudah tidak lagi membakar lahan.

“Sudah lebih dari dua tahun kita tidak lagi membersihkan lahan dengan membakar,” ujarnya.  Ia menambahkan bahwa Toni, yang kini sudah menjadi pendamping program DMPA yang merupakan inisiatif Sinar Mas Group, dulu merupakan anggota perkumpulan yang sama dengannya dan merupakan salah satu orang yang dengan dukungan penuh kepala desa, gigih mendorong petani meninggalkan kebiasaan membakar lahan.

Toni sendiri mengingat betapa tidak mudahnya untuk mendorong petani untuk menggunakan cara lain selain membakar ketika mempersiapkan lahan mereka. Ia terutama menekankan mengenai bahaya dan kerugian yang diakibatkan oleh pembakaran lahan dan bahwa tidak membakar akan menguntungkan dalam jangka panjang tidak saja bagi manusia tetapi juga tanaman dan lingkungan hidup,

Petani sedang memanen tanamannya. Foto: Dhung Thuy dari Pixabay

“Memang sih, membakar itu lebih murah dan lebih bagus untuk tanah kalau menurut petani, tapi kita bisa tunjukkan kepada mereka, dalam jangka panjang membakar itu tidak baik,” ujar Toni. Petani menurutnya banyak yang beranggapan bahwa abu dari pembakaran bagus untuk kesuburan tanah.

Berbagai peraturan dan perundangan kini melarang pembukaan lahan dengan membakar namun penegakan hukum terhambat oleh pengetahuan dan kesadaran umum yang masih rendah, jumlah personil dan juga belum adanya cara alternatif yang mudah, cepat dan murah,

Azwar Maas, Guru Besar Pertanian Universitas Gadjah Mada mengatakan bahwa petani masih terbiasa membakar, walaupun kini dengan mengumpulkan limbah dari membuka lahan mereka ke dalam tumpukan kecil kecil dan dibakar sedikit sedikit dan terkendali,, untuk menghasilkan arang dan abu.

“Ketika dibakar, maka mereka akan kehilangan unsur seperti nitrogen dan kadangkala sulfur, Cara terbaik adalah dengan membuat limbah ini menjadi kompos,” Azwar mengatakan dengan demikian petani tidak akan kehilang kedua unsur penting bagi kesuburan tanah ini, 

Ia mengatakan sudah terdapat cairan untuk mempercepat pembusukan hingga hanya dibutuhkan antara 25 hari dan satu setengah bulan untuk menghasilkan kompos, tergantung dari cara pembuatannya, dengan atau tanpa dimemarkan dan dicacah/

Ia mengatakan bahwa bila perusahaan ingin membantu petani untuk tidak membakar untuk menghasilkan abu dana rang, mereka dapat membantu dengan menyediakan pupuk dolomite yang akan memperkaya nutrisi dari limbah yang terkompos tadi.

Dan menurut Toni, perusahaan melalui program DMPA memang sudah melakukan hal ini.

“Yang kami lakukan adalah memberikan pupuk dolomite. Hanya diberikan sekali saja setelah lahan bersih. Hasilnya malah lebih bagus dari lahan yang dibakar” ujar Toni menerangkan bahwa kesuburan tanah yang diberi dolomite ini lebih subur dari tanah yang diberi abu dari bakaran.

“Kalau soal membakar, Alhamdullilah, di Perawang Barat ini sekarang tidak ada lagi membakar,” ujarnya.

Toni mengatakan bahwa dalam menjalankan tugasnya ia banyak terbantu karena dulu sebelum bekerja sebagai pendamping ia sudah menjadi anggota perkumpulan petani di Perawang Barat, jaid ia sudah banyak mengenal para petaninya maupun para pejabat desa dan tetua kampung.

Dalam menjalankan tugasnya ia menggunakan pertemuan pertemuan perkumpulan petani, yang biasanya diadakan di balai desa, dan juga mengandalkan kunjungan kunjungan pribadinya ke para petani satu persatu di kebun maupun rumah mereka, untuk menanamkan kesadaran mengenai kerugian dan bahaya kebakaran hutan dan lahan, dan meningkatkan kemampuan mereka mencegah kebakaran, termasuk dengan tidak membakar lahan.

Hutan Tanaman Industri. Foto: Cun Cun dari Wikimedia

Karena ia kini menangani delapan desa lainnya selain Perawang Barat, ia selalu memfokuskan kunjungan ke petani di dua atau tiga desa saja setiap minggunya,

“Memang makan waktu,” ujarnya, dengan menjelaskan bahwa pendekatan dengan petani tidak memungkinkan langsung membicarakan inti permasalahan tetapi secara perlahan harus membina hubungan dengan petani dan memperoleh kepercayaan dulu sebelum membicarakan masalah praktik membakar. Karena petani umumnya juga bekerja di siang hari, ia juga harus memilih waktu yang tepat untuk menemui mereka seperti ketika mereka sedang beristirahat di kebun mereka,

“Kadang-kadang kita pergi dengan kepala desa, kepala lembaga (perkumpulan petani). Jadi kita bersama sam mengedukasi petani,” ujar Toni,

“Kita juga mengajak semua untuk ikut,” dalam usahanya menjauhkan petani dari praktik membakar lahan, imbuhnya. Mulai dari kepala desa dan aparatnya, tokoh agama maupun adat dan tetua kampung, polisi dan tentara, dan juga berbagai pihak pada tingkat kecamatan, kabupaten maupun provinsi, seperti pemerintah daerah dan badan mitigasi bencana,

Sebuah MoU mengenai DMPA ditanda tangani oleh perusahaan dan pihak desa di tahun 2017 walaupun baru aktif berjalan di tahun selanjutnya. Toni mengatakan pada awalnya program hanya mencakup anggota perkumpulan petani yang jumlahnya hanya sekitar 20 orang. Para petani ini menerima bantuan dalam berbagai bentuk, termasuk bimbingan teknis, penyediaan pupuk dan bibit, sumber pendanaan usaha serta juga pemasaran produk.

Dibawah program DMPA ini desa disediakan dana untuk sektor pertanian, Usaha Mandiri Kecil Menengah, usaha kreatif, atau bisnis rumahan sebesar Rp250.000.000. Dana tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa paket dan diputar diantara mereka, 

“Saya dan kawan kawan terbantu sekali oleh program ini,” ujar Lasmono yang menambahkan bahwa dengan memperoleh dana untuk budidaya cabe keritingnya ia mampu menyisihkan dana bagi pendidikan kedua anaknya. Bahkan anak sulungnya kini merupakan mahasiswi pertanian di Solo.

Lasmono mengatakan bahwa dengan program DMPA ini “perusahaan sudah kasih dana yang tidak sedikit. Dana tersebut kita kelola dan dipinjamkan kepada anggota yang membutuhkan.”

Sedangkan bagi petani yang diluar lembaga perkumpulan petani), Toni mengatakan bahwa harus mengedukasi mereka dengan cara berbeda, lebih perlahan karena mereka tidak menerima manfaat langsung dari program perusahaan. “Kita harus menggunakan pendekatan yang lebih personal, lebih kekeluargaan,” ujarnya Toni.

Perbedaan pendekatan ini juga mencakup membiarkan mereka pada awalnya untuk membakar limbah pembersihan lahan mereka, tetapi dalam skala kecil kecil dan terkendali. “Kan kita tidak bisa langsung minta mereka untuk tidak membakar lahan,” lanjutnya.

Azwar mengatakan bahwa sektor swasta, terutama di sektor perkebunan dan hutan tanaman industri, memiliki kepentingan agar para penduduk di sekitar operasi mereka tidak membakar lahan sehingga kebakaran tidak menjalar ke perkebunan 

Kepala Desa Perawang Barat, Faisal, sangat membantu usaha ini dengan selalu meningkatkan penduduk desanya untuk tidak membersihkan lahan mereka dengan api, kadangkala dengan mengingatkan bahwa aparat penegak hukum kini dengan cepat bereaksi terhadap mereka yang terus membakar,

Faisal mengatakan ia mulai didekati perusahaan di tahun 2016 untuk membantu tidak saja untuk memuluskan program DMPA tetapi juga untuk mendorong para petani untuk tidak lagi membakar lahan

Edukasi masyarakat ini, dilakukannya melalui “sosialisasi, himbauan pada pertemuan-pertemuan, papan pengumuman, spanduk dan baliho,” kata Faisal.

“Awal-awal, masyarakat agak sulit mengerti dan paham , sebab membuka lahan dengan sistem membakar biayanya murah,” ujarnya. Tetapi sosialisasi dan himbauan yang menerus, dan juga mengingatkan akan konsekuensi legal membakar lahan, akhirnya berhasil.

“Memang cukup lama, memerlukan kesabaran,” ujar Faisal.

Seperti dikatakan Toni, Faisal juga mengatakan bahwa dalam mensosialisasikan mengenai bahaya dan ruginya membakar lahan, ia tidak bekerja sendiri tetapi juga menarik berbagai pihak untuk bekerja sama dalam usaha ini. Pemerintah daerah di tingkat provinsi dan kabupaten, ujarnya, sangat membantu dan mendukung, demikian pula ketua ketua RT, RK, tokoh agama, adat dan ketua ketua kelompok petani semua ikut memainkan peran, Faisal mengatakan.

Program DMPA sendiri difokuskan kepada penduduk desa dan bertujuan untuk membangun pengetahuan mereka mengenai bagaimana menghindari praktik membuka lahan dengan membakar. Program juga bertujuan untuk meningkatkan ketahanan desa melalui mata pencaharian yang lebih baik dengan alternatif tanaman bernilai ekonomi dan pemrosesan hasil.

Menurut Faisal, dalam program ini perusahaan tidak hanya memberikan bantuan bagi petani saja tetapi juga penduduk desa lainnya, Bantuan berupa kebutuhan pertanian seperti bibit, pupuk, pengetahuan teknis dan juga dana pinjaman untuk memulai usaha.

Baca juga: Ekosistem Gambut Perlu Perhatian Lebih Menjelang Musim Karhutla 2020: Madani

Medi Herlianto, dosen senior yang bekerja pada BNPB mengatakan bahwa bagi organisasinya, pencegahan berarti harus merubah cara berpikir masyarakat.

“Pencegahan itu artinya merubah mindset masyarakat. Konsep yang diutamakan adalah dengan meningkatkan kesejahteraan, mengembangkan pengetahuan, pemahaman dan membangun kapasitas sehingga masyarakat tidak lagi membakar,” katanya dalam sebuah diskusi daring baru baru ini.

Medi menambahkan bahwa usaha juga dilakukan untuk mendorong budidaya dan prosesing tanaman atau komoditas lainnya dengan nilai ekonomi yang sesuai bagi tiap daerah, sehingga dapat menghasilkan nilai tambah serta menjadi sumber pendapatan tambahan.

Menurutnya, peran sektor swasta dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan sudah jelas dimasukkan kedalam Grand Design Pencegahan Kebakaran Hutan, Perkebunan dan Lahan 2017-2019.

“Salah satu tujuan Grand Design ini adalah untuk meningkatkan partisipasi sektor swasta dan public dalam pencegahan kebakaran secara terencana dan sistematis” ujarnya.

Dalam hal ini, para pendamping  dan penyuluh memainkan peran penting karena melalui merekalah bantuan teknis dan pengetahuan diberikan kepada para petani sehingga mereka dapat menerapkan pembukaan lahan tanpa bakar, sejalan dengan standar yang ditentukan pemerintah.

Usaha-usaha DMPA dan pendamping mereka dalam memberantas praktik membuka lahan dengan membakar jelas sejalan dengan Grand Design pemerintah ini.

Di bulan Maret, misalnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengirim surat kepada para kepala daerah, yang antara lain berisi permintaan agar mereka berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengaktivasi peran sektor swasta yang lebih besar dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan, termasuk melalui edukasi publik.

Toni mengatakan bahwa tantangan terbesar dalam menjauhkan petani dari kebiasaan mereka membakar lahan adalah bagaimana memberikan mereka solusi alternatif yang terjangkau, efisien dan murah.

“Salah satu tantangannya adalah menyediakan peralatan yang dapat mempercepat pembersihan lahan,” ujar Toni, dengan menambahkan bahwa hanya kadangkala saja perusahaan dapat menyediakan alat berat untuk membantu membersihkan lahan.

Lasmono mengatakan bahwa perusahaan memang membantu dengan menyediakan alat berat untuk mempercepat pembersihan lahan, namun petani selalu ingin cepat, “minta hari ini, maunya datang hari ini,” hingga sering tidak sabar menunggu datangnya alat berat tersebut.

“Membersihkan satu hektar saja membutuhkan sekitar dua tiga minggu kalau kerja sendiri dengan alat pemotong saja,” Lasmono said. Bila menggunakan alat berat satu hektar dapat dibersihkan dalam waktu kurang dari satu hari, lanjutnya.

Yang dapat dilakukan Toni adalah memberikan pengetahuan mengenai bagaimana membersihkan lahan tanpa api.

Petani penerima manfaat program DMPA yang tidak menggunakan api dalam membersihkan lahan, memperoleh insentif dalam berbagai bentuk, termasuk peminjaman alat berat, peralatan untuk memproses hasil, bimbingan teknis untuk meningkatkan produktivitas tanaman, bantuan pemasaran dan juga bantuan untuk memungkinkan diversifikasi ekonomi rakyat.

“Sisi tidak baik dari pekerjaan saya ini, kalau saya berselisih pendapat dengan beberapa petani. Ini kan bisa terjadi, kan petani banyak macamnya. Sisi baiknya, saya dapat mengenal banyak orang dan juga dapat banyak belajar dari para petani,” ujar Toni.

“Bekerja sekalian mau memajukan tanah kelahiran Pak,” tutupnya.

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Kelapa sawit? Kunjungi The Palm Scribe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This