The Forest Scribe

Pembabat Hutan Terbesar Indonesia Sebuah Grup Perusahaan HTI: AIDenvironment

Foto: Flickr

AIDenvironment, konsultan nirlaba mengenai isu keberlanjutan, telah mengidentifikasi Nusantara Fiber Group yang beroperasi di Kalimantan, sebagai grup perusahaan hutan tanaman industri (HTI) yang melakukan deforestasi terluas di Indonesia, membabat 26.00 hektar hutan tropis antara 2016 dan bulan Oktober 2020.

“Analisa spasial memperlihatkan bahwa grup Nusantara Fiber telah jauh lebih banyak melakukan deforestasi dibandingkan dengan semua grup perusahaan dengan konsesi hutan tanaman industri di Indonesia dalam kurun waktu ini,” demikian AIDenvironment mengatakan dalam laporan terakhirnya yang diunggah pada laman resminya.

Grup Nusantara Fiber yang terdiri dari enam perusahaan HTI, milik pemilik rahasia dan tidak memiliki komitmen publik kepada kebijakan No Deforestation, No Peat, No Exploitation (NDPE.) Grup ini dimiliki oleh sebuah perusahaan yang didaftarkan di Samoa, negara yang merupakan sebuah yurisdiksi rahasia.

Walaupun kepemilikan grup Nusantara Fiber diliputi misteri, AIDenvironment mengatakan bahwa grup ini memiliki beberapa keterkaitan dengan Royal Golden Eagle (RGE), konglomerat kertas dan sawit serta salah satu dari empat pemain korporasi utama di sektor sawit dan HTI di Indonesia.

Holding company Nusantara Fiber yang terdaftar di Samoa memiliki anak perusahaan — Green Meadows Fiber Products yang berbasis di Hong Kong—yang juga pemilik saham mayoritas di perusahaan perkebunan Nusantara Fiber. Dua dari tiga direktur pertama “Green Meadows” merupakan pejabat tinggi RGE.

Sejumlah direktur pertamanya juga terlibat atau pernah terlibat dengan berbagai bisnis sawit dengan 27 pabrik kelapa sawit dan atau kernel crushers dan RGE merupakan pelanggan dari ke 27 perusahaan tersebut.

Catatan historis kepemilikan perusahaan-perusahaan dibawah grup Nusantara Fiber memperlihatkan penguasaan oleh entitas yang merupakan bagian atau terkait dengan RGE, sebelum perusahaan-perusahaan tersebut dipindahkan ke yurisdiksi rahasia.

Dalam jawaban singkatnya setelah dikirimi draft laporan ini, RGE mengatakan bahwa perusahaan “tidak memiliki hubungan dengan keenam perusahaan yang disebutkan dalam laporan sebagai bagian dari grup Nusantara Fiber.”

Perusahaan dengan konsesi terluas di grup ini, menguasai daerah seluas 102.000 hektar, adalah PT Industrial Forest Plantation. Perusahaan ini telah membuka 10.700 hektar hutan, lebih dari setengahnya, atau 5.800 hektar di babat di tahun 2020, demikian AIDenvironment mengatakan dengan menambahkan bahwa kebanyakan dari deforestasi ini terjadi di habitat orangutan, yang merupakan spesies yang sangat terancam punah.

Sampai bulan Oktober 2020, masih terdapat 64.000 hektar hutan dalam konsesinya, dan hanya 15.800 hektar yang ditunjuk sebagai kawasan lindung. PT Santan Borneo Abadi, sebuah perusahaan perkebunan lainnya dalam grup ini, telah membabat 12.300 hektar semenjak tahun 2016.

Sementara laporan audit publik merujuk kepada adanya studi mengenai kawasan dengan Nilai Konservasi Tinggi (HCV) di beberapa konsesi, tidak ada hasil studi itu yang dapat diakses publik. Tidak juga terdapat informasi mengenai asesmen kawasan dengan Stok Karbon Tinggi (HCS.)

Ada sedikitnya 40 kelompok perusahaan yang aktif di bidang sawit dan juga hutan tanaman industri di Indonesia tetapi kebijakan NDPE perusahaan-perusahaan pemurni minyak sawit terbesar hanya terbatas diberlakukan kepada sawit saja, dan dengan demikian membuka kesempatan bagi mitra bisnis mereka untuk meneruskan deforestasi di sektor hutan tanaman industri. 

AIDenvironment mengatakan bahwa RGE memiliki pengaruh terhadap grup Nusantara Fiber dikarenakan peran besarnya sebagai pembeli produk dari bisnis sawit yang terkait dengan grup Nusantara Fiber. Sampai saat ini RGE telah gagal menjadikan grup Nusantara Fiber ini sebagai bagian dari komitmen keberlanjutannya, imbuh AIDenvironment.

“Dengan menerapkan kebijakan NDPE lintas komoditas, perusahaan pemurni minyak sawit terbesar di Indonesia ini dapat menghentikan deforestasi dan menciptakan mitra bisnis yang bebas dari deforestasi. Pada kasus grup Nusantara Fiber, puluhan ribu hektar hutan dan habitat orangutan masih bisa diselamatkan,” katanya.

Grup RGE memiliki dua perusahan pulp dan kertas di Indonesia: APRIL (pulp dan kertas) dan APR (viscose staple fibers). Seluas 1,6 juta hektar konsesi hutan industri di Indonesia atau 15 persen dari total, dimiliki atau terkait RGE (termasuk grup Nusantara Fiber.)

AIDenvironment mengatakan bahwa RGE telah membiarkan pintu terbuka bagi deforestasi oleh grup-grup perusahaan yang terkait denganya.

“Ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai komitmen nol-deforestasi RGE,” kata AIDenvironment.

“Grup perusahaan RGE harus melibatkan grup Nusantara Fiber dan menggunakan pengaruhnya untuk segera menghentikan deforestasi yang terjadi sekarang ini dan yang akan terjadi di masa yang akan datang,” ujar AIDenvironment dengan menambahkan bahwa pengaruh juga harus diterapkan kepada bisnis sawit RGE dengan direktur-direktur grup Nusantara Fiber yang dulu maupun yang sekarang.

“Grup Nusantara Fiber harus segera menghentikan deforestasinya, mengumumkan asesmen HCV dan HCS dalam konsesi-konsesinya dan menetapkan kebijakan No deforestation,  No Peat, No Exploitation (NDPE),” AIDenvironment menyerukan.

AIDenvironment mengatakan bahwa keempat pemain korporasi utama yang menangani bagian terbesar dari panen sawit dan HTI— Sinar Mas, RGE, Wilmar and Musim Mas – harus memperluas kebijakan NDPE mereka, memastikan bahwa mitra bisnis mereka tidak melakukan deforestasi, baik untuk sawit maupun tanaman industri.

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Kelapa sawit? Kunjungi The Palm Scribe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This