The Forest Scribe

Pejabat Peringatkan: Pandemi Covid-19 Akan Memperburuk Karhutla Tahun Ini

kebakaran hutan dan lahan (karhutla)

Mewabahnya virus Corona, atau Covid-19, diperkirakan akan memperburuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini karena tekanan ekonomi yang diakibatkannya akan mendorong petani kecil untuk kembali membuka atau membersihkan lahan dengan membakar, sementara tuntutan social and physical distancing akan mempersulit pencegahan dan pengendalian kebakaran, beberapa pejabat daerah mengatakan.

Dalam seminar daring “Antisipasi Dampak Karhutla, Asap dan Covid-19” yang diselenggarakan Landscape Indonesia Rabu (6/5), Bupati Sintang Jarot Winarno mengatakan bahwa pandemic Covid-19 ini menimbulkan kesulitan ekonomi bagi penduduk daerahnya karena harga komoditas pokok mereka – kelapa sawit, karet dan lada – anjlok menyusul melambatnya perekonomian.

“Jadi,  situasi seperti ini pastinya akan menjadi trigger, akan menjadi pendorong, driver untuk  masyarakat Sintang di pedalaman, untuk tidak ada cara lain mereka tinggal hanya dengan membakar lahan saja. Jadi, mungkin dampak dari Corona yang paling berat yang akan kita alami adalah dorongan untuk membakar lahan, slash and burn ini akan semakin tinggi,” ujar Jarot.

Kalimantan Barat, dimana kabupaten Sintang ini berada, merupakan salah satu provinsi yang terparah mengalami karhutla tahunan yang selalu terjadi di musim kering, terutama di bagian akhirnya ketika orang mempersiapkan lahan untuk siklus penanaman yang baru. Api melalap 2,6 juta hektar hutan dan lahan di Kalimantan Barat tahun 2019, demikian kepala polisi provinsi itu pernah mengatakan, dengan menambahkan bahwa kebakaran tahun itu merupakan yang terbesar selama lima tahun belakangan ini.

Jarot mengatakan bawa Sintang memiliki tutupan hutan seluas 925.585 hektar.  Tidak terdapat data mengenai luasan yang terbakar di kabupaten tersebut tahun lalu  tetapi Jarot pada bulan September 2019 menyatakan status darurat karhutla untuk kabupatennya selama dua minggu setelah jumlah hotspot mencapai lebih dari 600 dalam sehari di pertengahan September dan menyebabkan  masalah kesehatan yang meluas di masyarakat.

Ia mengatakan pemerintah daerah kini sepenuhnya sudah siap untuk menghadapi karhutla dengan lebih baik di musim kering tahun ini, yang menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisik, akan lebih kering dibanding tahun lalu, tetapi ia juga menambahkan bahwa Sintang kini memiliki “normal karhutla” yang baru.

“Dengan normal baru, kita masih berasap, tapi kita inginkan ini terbatas dan terkendali,” ujar Jarot.

Ia menerangkan bahwa dalam sebuah peraturan bupati yang dikeluarkannya di tahun 2018 dan yang kemudian diperbaiki lagi di tahun 2020, masyarakat adat di Sintang tetap akan dapat membuka/membersihkan lahan dengan membakar bila ini dilakukan untuk menyiapkan musim tanam baru bagi tanaman tradisional setempat dan pada lahan dibawah dua hektar.

“Kalau mereka membakar untuk tanam sawit, kita tangkap. Kalau mereka membakar untuk tanam lada, kita tangkap, tetapi kalau mereka bakar lahan untuk tanam komoditas lokal seperti beras, timun atau kacang panjang… kita akan akomodasi dana tur,”Jarot mengatakan.

Ia juga mengatakan bahwa kebijakan seperti ini hanya terdapat di kabupatennya.

Sementara itu, Wakil Bupati Musi Banyuasin, Beni Hernedi, yang berbicara di seminar yang sama, mengatakan bahwa dibandingkan dengan tahun 2019 ketika pencegahan karhutla di kabupatennya “dapat dikategorikan berhasil,” pemda jauh lebih siap untuk menghadapi karhutla di tahun ini.

Ia juga mengatakan bahwa dengan pandemic Covid-19, jauh lebih mudah memonitor pergerakan orang keluar masuk daerah di Musi Banyuasin.

Pernyataannya ini menyusul pernyataanya sebelumnya bahwa kebanyakan karhutla yang besar di Musi Banyuasin kebanyakan terjadi di kecamatan-kecamatan yang memiliki lahan gambut luas serta terletak berdampingan dengan kabupaten atau propinsi tetangga. Ia mengklaim kebanyakan kebakaran di daerah-daerah tersebut disulut oleh orang orang dari daerah tetangga.

“Tetapi kita juga ada kelemahan. Pasti kita tidak bisa seperti kami di Musi Banyuasin di tahun 2019 itu, dengan kesiapan yang begitu tinggi,” ujar Beni.

Dalam situasi pandemic Covid-19 seperti sekarang ini, ia mengatakan ia khawatir kabupaten tidak akan dapat dengan efektif mencegah dan mengendalikan karhutla karena para pemangku kepentingannya kemungkinan semua harus bekerja dari rumah dan juga terdapat protocol kesehatan yang harus dipatuhi.

“Jadi saya bisa membayangkan, bagaimana kita bisa menggerakkan orang seperti tahun 2019? Gara-gara Covid ini, tidak bisa dilakukan dengan maksimal,” ujar Beni.

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Kelapa sawit? Kunjungi The Palm Scribe.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This