The Forest Scribe

Madani Sambut Baik Penurunan Deforestasi  2019-2020, Serukan Penguatan Perlindungan Hutan Alam Sekunder

Yayasan Madani Berkelanjutan menyambut baik upaya pemerintah menurunkan deforestasi hingga 75 persen di periode 2019-2020 sebagai titik awal yang baik bagi Indonesia untuk membangun ekonomi tanpa merusak hutan dan lingkungan. tetapi juga mendesak pemerintah untuk memperkuat perlindungan pada hutan alam sekunder.

“Selayaknya Indonesia dapat mempertahankan penurunan deforestasi ke depan agar menjadi rujukan keberhasilan negara-negara pemilik hutan tropis lainnya.,” ujar Madani dalam sebuah pernyataan tertulisnya menyambut rilis  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 3 Maret 2021, yang mengatakan telah menurunkan deforestasi hingga 75 persen di periode 2019-2020 itu.

Madani mendesak pemerintah untuk memastikan agar semua kebijakan pembangunan terkini, mulai dari Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), Proyek Strategis Nasional (PSN), hingga Program Ketahanan Pangan dan Energi – sejalan dan koheren dengan upaya pencapaian komitmen iklim, ungkap Yosi Amelia, Project Officer Hutan dan Iklim Yayasan Madani Berkelanjutan menanggapi rilis Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, terkait deforestasi.

Fadli Ahmad Naufal, GIS Specialist Madani Berkelanjutan mengatakan sesungguhnya penurunan angka deforestasi terbesar terjadi pada deforestasi hutan tanaman sebesar 99 persen, jadi bukan hilangnya hutan alam. Sementara itu deforestasi hutan primer turun sebesar 48 persen, yakni dari 23.900 hektar pada 2018-2019 menjadi 12.300 hektar pada 2019-2020. 

Menurutnya, deforestasi hutan sekunder tidak turun sebesar hutan primer, yakni hanya 36 persen dari 164.000 hektar pada 2018-2019 menjadi 104.600 hektar pada 2019-2020. Fadli mengatakan hal Ini menunjukan bahwa sangat mendesak untuk meningkatkan perlindungan pada hutan alam sekunder, baik yang berada dalam konsesi yang belum terlindungi oleh  Peta Indikatif Penundaan Pemberian Izin Baru (PIPPIB), salah satunya melalui inovasi kebijakan termasuk implementasi REDD+.

“Jika kita hanya melihat hilangnya hutan alam (deforestasi bruto hutan alam), betul terjadi penurunan deforestasi yang layak diapresiasi, namun hanya sebesar 38 persen, yakni dari 187.900 hektar pada 2018-2019 menjadi 116.900 hektar pada 2019-2020. Berdasarkan analisis awal Madani, ada sekitar 9,4 juta hektar hutan alam atau hampir setara 16 kali Pulau Bali di luar izin dan konsesi dan kawasan PIAPS dan PIPPIB yang belum terlindungi oleh kebijakan penghentian pemberian izin baru atau moratorium hutan sehingga rentan terdeforestasi,” tambah Fadli.  PIAPS merujuk kepada Peta Indikatif Areal Perhutanan Sosial.

Namun Madani juga menggarisbawahi bahwa di saat yang bersamaan pemerintah juga telah menyusun kebijakan yang berpotensi meningkatkan laju deforestasi pada beberapa tahun ke depan. Tanpa pengetatan safeguards lingkungan hidup, dikhawatirkan bahwa berbagai program pembangunan tersebut dapat menggagalkan pencapaian komitmen iklim dan pembangunan rendah karbon Indonesia dan justru meningkatkan konflik dengan masyarakat adat dan lokal.

Dalam waktu dekat, potensi naiknya angka deforestasi ke depan ditandai dengan luasnya hutan alam yang masuk dalam area of Interest (AOI) Food estate di empat Provinsi (Papua, Kalteng, Sumut, dan Sumsel). Nilai luasan hutan alam tersebut sekitar 1,5 juta hektar atau hampir setara dengan 3 kali luas pulau Bali. Kekhawatiran terjadinya deforestasi sangat beralasan karena besarnya potensi nilai ekonomi kayu pada luasan hutan alam tersebut, yaitu sebesar 209 triliun rupiah.  

“Oleh karena itu, sangat mendesak bagi pemerintah untuk memperkuat perlindungan pada hutan alam sekunder, baik yang terlanjur berada dalam konsesi maupun yang belum terlindungi oleh PIPPIB. Salah satunya adalah melalui implementasi REDD+ dengan penerapan safeguards lingkungan dan sosial yang kuat yang didukung oleh transparansi data,” ungkap Yosi.

Yosi menambahkan bahwa Madani akan berada di garda terdepan jika pemerintah membuka diri untuk kerja bersama dalam mengimplementasikan aksi untuk mengurangi deforestasi.

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Kelapa sawit? Kunjungi The Palm Scribe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This