The Forest Scribe

Kelompok Tani Menebar Pengetahuan Menjaga Hutan Dengan Insentif Ekonomis

Seorang petani di hutan di Kabupaten Kuantan Singingi di Provinsi Riau, Indonesia, menunjukkan liana dari keluarga rotan, yang dikenal secara lokal sebagai Jernang. Buah dari tanaman panjat Jernang menghasilkan getah bernilai ekonomis tinggi yang dikenal dengan darah Naga. Kredit foto: Winahyu Dwi Utami

Penulis: Winahyu Dwi Utami

Sebuah Kelompok Tani di Kuantan Singingi, Riau, aktif menebar pengetahuan mengenai bagaimana menjaga kelestarian hutan dengan budidaya tanaman bernilai ekonomis tinggi serta pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.

Kelompok Tani Hutan Bukik Ijau di Desa Air Buluh, Kecamatan Kuantan Mudik di Kabupaten Kuantan Singingi in telah membuka Sekolah Kelompok Tani Hutan (SKTH) Sungai Putat dengan kurikulum khusus untuk petani. mengajarkan bagaimana cara budidaya dan pengolahan tanaman Jernang.

Jernang adalah sejenis rotan dari marga Daemonorops. yang memiliki buah yang menghasilkan resin (getah) berwarna merah yang dalam dunia perdagangan disebut dragon’s blood. Getah jernang ini dimanfaatkan antara lain untuk bahan baku pewarna dalam industri porselen, marmer dan cat pernis sementrara dalam industri obat herbal, ia sebagai bahan baku dalam penanganan penyakit pendarahan (blooding) dan penyembuhan luka dalam maupun luka luar.

Masa produktif tanaman jernang 30 tahun. Terdapat dua varian jernang, yaitu jernang beruk dan jernang Jantung, yang terakhir ini menghasilkan lebih banyak resin dan mutu resinnya pun lebih bagus. Harga bibit per pohon saat ini Rp40.000 untuk jernang beruk dan Rp100.000 untuk jernang jenis jantung.

Jernang, yang tumbuh subur di bawah naungan pohon pohon di hutan, sudah bisa dipanen buahnya saat berumur 4 tahun.  Satu pohon jernang mampu menghasilkan buah 5-10 kg dengan harga jual buah Rp250.000 per kg. Sementara lapisan heath atau resinnya dihargai Rp3,5 juta per kg. Bila 1 hektar ada sekitar 200 pohon jernang, bisa dihitung nilai manfaat yang dihasilkan oleh kelompok tani hutan.

“Ini lebih mahal dari harga jual buah sawit,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan kehutanan Provinsi Riau, Maamun Murod, saat hadir meresmikan Sekolah Tani Hutan Sungai Putat di Desa Air Bulug, 26 Januari 2021. Kelapa sawit merupakan tanaman penghasil uang yang sangat populer di kalangan petani di Indonesia

Selama ini masyarakat petani susahnya untuk mengidentifikasi tanaman jernang di hutan dan kesulitan melakukan pembibitan karena pengetahuan yang terbatas.  Sementara jernang adalah tanaman konservatif yang mempunyai nilai ekonomi luar biasa yang sangat baik tumbuhnya di dalam hutan.

Sekolah ini merupakan inisiatif Kelompok Tani Hutan Bukit Ijau, yang didirikan di tahun 2016 dengan tujuan utama menjaga hutan dari perambahan dan pembalakan liar dan juga pengelolaan hutan demi nilai ekonomis, dengan bimbingan Yayasan Hutanriau.

Direktur Yayasan Hutanriau, Widya Astuti mengatakan pihaknya bersama Kelompok Tani Hutan Bukik Ijau mengadakah sekolah ini lantaran banyak masyarakat yang datang ke Desa Air Buluh bertanya dan ingin tahu bagaimana cara budidaya dan pengolahan tanaman Jernang.

“Karena banyaknya masyarakat Kuansing dan luar Kuansing yang ingin belajar, makanya kami berinisiatif membuka sekolah tani hutan ini,” jelas Widya. 

Ia mengatakan bahwa selama ini umumnya orang menilai hutan adalah lahan tak berharga, terlantar yang harus diberdayakan menjadi sebidang kebun atau tanah garapan. “Padahal hutan adalah sumber kehidupan, ada banyak hasil hutan yang bernilai ekonomi tinggi yang perlu diberdayakan,” terang Widya.

Masyarakat atau petani bisa melihat bahwa hasil hutan itu tidak kalah dengan hasil kebun. Dengan melestarikan hutan, hutan akan memberikan manfaat ekonomi luar biasa bagi manusia, imbuhnya.

“Atas dasar itulah kemudian kami percaya diri mendirikan sekolah tani hutan. Walau kurikulum dan modul belajarnya mungkin masih belum sekeren institusi pendidikan lain, namun soal ilmu dan pengajarnya tidak perlu lagi diragukan,” lanjutnya.

Buah tanaman Jernang yang menghasilkan resin bernilai ekonomis tinggi yang dikenal sebagai Dragon’s Blood. Photo credit Winahyu Dwi utami

KTH Bukik Ijau sendiri sudah banyak dianggap pakar tentang adalah jernang. Mereka memperoleh ilmu tentang jernang dari pengalaman dan riset partisipatif selama bertahun-tahun. Mereka sudah mulai mempelajari jernang sejak tahun 90-an dan melakukan riset partisipatif dengan dampingan Yayasan Hutanriau sejak 2017.

Menurut Kepala Sekolah KTH Sungai Putat, Ali Yasmi, jernang adalah tanaman hutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dulu masyarakat sulit untuk mengembangbiakannya. Butuh waktu berbulan-bulan melakukan pembibitan. Tapi sekarang, 15 hari tunas jernang sudah bisa tumbuh. 

“Dulu masyarakat mencari bibit ke dalam hutan. Ketika bibit dicabut dan kemudian ditanam di tempat lain, bibit itu tidak mau tumbuh. Namun sekarang, kami sudah mampu melakukan pembibitan sendiri,” lanjut Ali.

Di sekolah tani hutan, petani akan diajarkan bagaimana menumbuhkan biji, melakukan pembibitan dari pencabutan anakan, cara menanam, memanen dan mengolah biji dan batang jernang.

Murod dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan provinsi, mengapresiasi apa yang telah dilakukan KTH Bukik Hijau dan kawan-kawan dari Yayasan Hutanriau bersama masyarakat Desa Air Buluh.  Ia pun berharap keberhasilan KTH Bukik Ijau ini bisa diadopsi oleh KTH lain yang ada di Provinsi Riau. 

“Saya percaya konservasi hutan bisa sejalan dengan pemberdayaan masyarakat,” lanjut Murod.

Menurut Ketua Kelompok Tani Hutan Bukik Ijau, Henrianto, saat ini pihaknya telah menanam jernang di lahan hutan lindung seluas 50 hektar. 

“Satu kelompok beranggotakan 30 sampai dengan 40 orang dan dapat mengelola sekitar 200 hektar lahan,” kata Henri.

Soal biaya pendidikan di Sekolah KTH Sungai Putat, menurut Widya itu relatif. Misalnya untuk topik budidaya jernang 2 hari dengan porsi 30 persen teori, 70 persen praktik di lapangan, biaya akan sangat bergantung pada banyaknya peserta

“Kalau dalam satu rombongan belajar berjumlah 10 orang, per orang dikenakan biaya Rp1,5 juta,” jelas Widya.

Diperlukan dua hari karena akan ada materi bagaimana mengidentifikasi jernang di hutan, bagaimana praktik panen di hutan, praktik pembibitan, penanaman dan perawatan jernang.

Topik lain yang dapat diajarkan adalah bagaimana cara mengidentifikasi hasil hutan non kayu bernilai ekonomi tinggi dalam hutan sekitar atau lebih dikenal dengan istilah kajian partisipatif.  Untuk topik ini, waktu dan harga paketnya berbeda lagi. Namun semua biaya sudah termasuk makan, perlengkapan dan akomodasi di lokasi belajar.

“Siswa tinggal bawa badan dan persiapkan diri untuk open mind, open heart dan open will dalam belajar,” tandas Widya.

Kelapa sawit? Kunjungi The Palm Scribe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This