The Forest Scribe

Indonesia Mencoba Teknologi Kecerdasan Buatan untuk Sistem Deteksi Awal Karhutla 

kebakaran lahan gambut

Indonesia, yang selama beberapa dasawarsa terakhir ini diterpa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahunan yang banyak menyumbang kepada deforestasi di negeri ini, kini terfokus kepada usaha untuk mencegah dan pemadaman dini bencana ini dan karenanya sedang mencoba sebuah sistem peringatan dini kebakaran yang berbasis internet dan kecerdasan buatan.

”Untuk Indonesia, terutama untuk KLHK (Kementerian Lingkungan dan Kehutanan), kami telah memasang InsightFD kami di samping kantor Manggala Agni daerah dan kami berencana untuk memperluas lagi jangkauan InsightFD,” ujar Diwantara Sebastian dari Insight Robotics Ltd.

Insight FD, merupakan sistem peringatan kebakaran dini 24 jam yang menggunakan kamera detektor termal dan visual yang dapat dioperasikan dengan tenaga manusia minimal dan dapat diakses maupun dikendalikan oleh individu yang berwenang melalui internet. Sistem ini dikembangkan oleh Insight Robotics, sebuah perusahaan kecerdasan buatan berbasis di Hong Kong.

 “Tahun depan, KLHK juga berencana mengintegrasikan titik-titik api dari sistem InsightFD kami kedalam sistem Sipongi mereka,” ujar Diwantara dengan merujuk kepada sistem data dan monitoring kebakaran hutan yang terutama berbasis citra satelit serta dapat diakses di dunia maya.

Sebagai bagian dari program KLHK untuk mengimplementasikan program Patroli Pencegahan Kehutanan Terintegrasi, sistem kamera InsightFD telah dipasang di 15 lokasi berbeda di beberapa propinsi di Sumatra, Kalimantan dan Java, laman Roboticscats, perusahaan agen Insight Robotics di Indonesia mengatakan.

Laman tersebut juga mengatakan bahwa lebih dari 15 orang dari kantor Manggala Agni di daerah telah mengikuti pelatihan selama dua hari di bulan April 2020 untuk lebih mengenali sistem serta pengoperasian InsightFD ini.

Diwantara mengatakan bahwa InsightFD merupakan sebuah sistem yang menggunakan kamera dengan kemampuan deteksi panas dan asap secara termal dan visual yang dipasang di puncak menara statis dan dapat mendeteksi asap dari jarak hingga 15 kilometer.

“Untuk sistem statis, yang kami namakan InsigthFD, spesifikasi menara tergantung pada lokasinya, apakah di lahan atau berada di bukit. Saran kami adalah bahwa ketinggian Menara seharusnya sekitar 20 meter di atas puncak pohon-pohon disekitarnya,” jelasnya.

Menara demikian akan dapat mendeteksi sumber panas seluas dua meter persegi sekitar lima kilometre jauhnya sementara asap dari api yang menjulang paling tidak 20 meter akan dapat dideteksi dari jarak 15 kilometer.

Ia menambahkan bahwa sistem deteksi termal ini kadangkala dapat dipengaruhi oleh hujan deras atau kabut misalnya sedangkan pandangan terbatas akibat kabut asap dari kebakaran hutan dapat juga mempengaruhi deteksi visual asap.

Diwantara mengatakan bahwa uji coba pertama untuk memperoleh Pembuktian Konsep (Proof of Concept) di Indonesia telah dilakukan di sebuah hutan industri swasta di Riau di bulan April 2016 yang ketika itu juga disaksikan oleh Direktur Pengendalian Karhutla KLHK pada waktu itu, Raffles B. Panjaitan.

Kami telah merancang InsightFD kami sehingga ia dapat bekerja secara otomatis dengan bantuan manusia yang minim dan karena perangkat lunak kami dipersiapkan bagi pengaksesan melalui browser internet , hal ini memungkinakn seseorang yang memiliki wewenangnya untuk  mengendalikan InsightFD, selama ada akses internet dan dua memiliki IP Publik,” Diwantara mengatakan. 

Ia mengatakan bahwa Insight Robotics juga akan meluncurkan sekitar minggu ketiga bulan Oktober ini, sebuah aplikasi untuk iPhone  bernama Reportfire yang akan dapat mendeteksi asap sejauh 2,5 kilometer, hanya dengan menggunakan telepon genggam tadi.

“Kami membuatnya karena kami ingin membantu. Pandemi Virus Corona telah menangguhkan digelarnya Insight FD yang baru. Kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir tetapi kita tahu bahwa perubahan iklim akn terus mengakibatkan karhutla. Akan celaka bila Coronavirus dan Karhutla terjadi bersamaan<” ujar Diwantara.

Ia mengatakan bahwa di tengah social distancing dalam era normal baru ini, Insight Robotics ingin memungkinkan mitigasi kebakaran dan kerusakannya walaupun InsightFD yang baru tidak bisa dipasang sementara ini.

Perusahaan, menurutnya, akan terlebih dahulu mengevaluasi umpan balik dari penggunaan Reportfire dengan iPhone ini sebelum memutuskan untuk mengembankan model sama untuk telepon genggam berbasis Android.

Diwantara mengatakan bahwa dari segi akurasi, deteksi api dan asap menggunakan detektor termal dan visual ini mencapai lebih dari 90 persen dan ia pun menambahkan bahwa saat ini detector seperti ini sudah dipasang dan dioperasikan di Hong Kong, Cina, Meksiko dan Portugal.

 “Kami dapat melakukan deteksi 24/7 dalam kondisi cuaca apapun,” gumamnya, mencoba menjelaskan keunggulan sistem InsigthFD dibandingkan dengan sistem deteksi kebakaran lainnya.

Sistem InsightFD,  memberikan informasi mengenai lokasi kebakaran dengan peta tiga dimensi dan sistem ini dapat dioperasikan dengan biaya operasional dan risiko rendah. Sistem ini juga hampir tidak dipengaruhi oleh bias manusiawi.

Sementara itu, ReportFires menyajikan informasi lokasi kebakaran dalam bentuk lokasi titik panas dua dimensi, dengan koordinat lintang dan bujurnya serta disertai dengan gambar visualnya.

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Kelapa sawit? Kunjungi The Palm Scribe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This