The Forest Scribe

Indonesia Ingin Dorong Penerimaan Kayu Legal Yang lebih Merata Di Kalangan Anggota UE 

Ilustrasi FLEGT untuk industri perhutanan

Walaupun Uni Eropa telah mengakui Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) Indonesia dan produk kayu Indonesia kini dapat dengan mudah masuk ke dalam pasarnya, tingkat pemahaman dan penerapan pengadaan kayu legal diantara anggota organisasi kawasan ini masih belum merata, karenanya Indonesia ingin mendorong agar semua negara anggota UE memiliki kebijakan pengadaan kayu yang sama, beberapa pakar legalitas kayu mengatakan disini Selasa (11/2).

Uni Eropa memiliki rencana aksi Penegakan Hukum, Tata Kelola dan Perdagangan Sektor Kehutanan (FLEGT) yang mengeluarkan lisensi FLEGT untuk kayu dan produk kayu yang diekspor ke negara di kawasan mereka. Uni Eropa mengakui SVLK sebagai memenuhi persyaratan Lisensi FLEGT ini dan karenanya ekspor kayu Indonesia ke Uni Eropa tidak perlu melewati proses uji tuntas lagi.

“Kami ingin mengadvokasi, mendorong negara-negara UE lainnya untuk menerapkan kebijakan procurement kayu pemerintah dengan FLEGT,” ujar Iwan Wibisono, seorang Program manager dari Multi-Stakeholder Forestry Program (MFP).

Ia mengatakan bahwa walaupun UE memiliki FLEGT, penerapan oleh masing masing negara masih berbeda-beda.

“Kapasitas implementasinya masih beda-beda, tak semua negara di Uni Eropa punya kapasitas dan tingkat awareness yang sama terhadap hal ini, dan masih menerapkan standar beda-beda.. kondisinya belum ideal, belum sama,” Iwan mengatakan.

Karenanya, Indonesia kini sedang merencanakan aksi untuk mendorong agar semua negara anggota UE ini paling tidak menerapkan kebijaksanaan pengadaan kayu legal bagi pemerintahan mereka.

“Mungkin pengadaan bagi negara itu tidak besar (dalam volume), namun baik sebagai simbol tingkat kepatuhan dan penerapan,” imbuh Iwan. 

Tri Nugroho, seorang team leader MFP 4, mengatakan bahwa Indonesia ingin berdiskusi dengan pemerintah di negara-negara Eropa, terutama dengan potensi pembelian kayu yang signifikan, untuk mempromosikan kayu yang memenuhi persyaratan FLEGT dan mendorong mereka untuk mempersyaratkannya dalam kebijakan pengadadaan kayu mereka.

“Siap berdiskusi dengan pemerintahan di negara-negara Eropa untuk mempromosikan penggunaan kayu FLEGT,” ujarnya. Ia mengatakan bahwa negara negara prioritas bagi lobi-lobi ini adalah Jerman, Denmark, Belgia dan Perancis, negara-negara Uni Eropa dengan level penerimaan FLEGT yang masih rendah namun dengan potensi pembelian yang besar.

Tri juga menambahkan bahwa Indonesia sedang dalam proses penjajakan untuk bekerja sama dengan Ghana, negara lain penghasil kayu tropis, dalam melobi negara-negara anggota Uni Eropa ini.

“Kami dan Ghana ingin mendorong hal ini menjadi kebijakan,” ujar Iwan, dengan menambahkan bahwa harapannya adalan negara-negara yang dilobi mengadopsi kebijakan yang lebih berpihak kepada FLEGT.

Namun Tri mengingatkan bahwa usaha bersama dengan Ghana ini masih dalam tahap inisiatif dan kajian.

“Kalau bisa gabung bersama, kan keren,” ujar Tri, dengan menambahkan bahwa jika kerjasama ini tidak terlaksana pun, masing-masing pihak masih dapat bekerja sendiri-sendiri untuk mendorong negara anggota Uni Eropa ini untuk meningkatkan penerimaan mereka atas FLEGT.

Ia mengatakan bahwa detail dan kepastian mengenai kerjasama antara Indonesia and Ghana ini akan dapat diperoleh di sekitar akhir tahun ini.

Kelapa Sawit? Kunjungi The Palm Scribe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This