The Forest Scribe

Global Forest Watch Perkirakan Kehilangan Tutupan Pohon terus turun di tahun 2020

hutan indonesia

Sementara menunggu terbitnya data kehilangan tutupan pohon global untuk tahun 2020 yang tidak lama lagi, Global Forest Watch memperkirakan bahwa kehilangan hutan di Indonesia di tahun 2020 kelihatannya akan turun mengikuti kecenderungan di tiga tahun sebelumnya.

“Kehilangan hutan di Indonesia telah turun selama tiga tahun berturut-turut, sebuah kecenderungan yang mungkin akan berlanjut di tahun 2020,” demikian Global Forest Watch mengatakan dalam Global Forest Reviewnya yang terakhir.

Perkiraan tersebut, menurut Global Forest Watch, diperoleh berdasarkan informasi tambahan, termasuk dari sistem peringatan deforestasi Global Analysis and Discovery (GLAD,) citra satelit beresolusi tinggi yang terbaru serta pelaporan dari lapangan.

Laporan tersebut mengatakan bahwa kehilangan tutupan hutan di Indonesia turun lima persen di tahun 2019 dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menjadi tahun ketiga dengan penurunan tingkat deforestasi. “Indonesia belum pernah melihat tingkat kehilangan hutan primer sedemikian rendah semenjak awal abad ini,” katanya. 

Global Forest Watch mengatakan bahwa turunnya laju kehilangan hutan ini juga terjadi walaupun terjadi musim kebakaran yang serius di tahun 2019 yang pada tahun-tahun sebelumnya mengakibatkan kehilangan areal hutan primer yang luas.

Pemerintah melaporkan bahwa lebih dari 1,6 juta hektar lahan terbakar di tahun 2019, angka tertinggi kedua setelah kebakaran besar di tahun 2015.  Sebagian yang cukup besar dari kebakaran di tahun 2019 tersebut terjadi di kawasan bergambut yang kaya karbon sehingga berdampak besar pada emisi karbon.

Keterlambatan dalam deteksi api dan kebakaran disebabkan tutupan awan maupun asap dapat berarti bahwa beberapa kerusakan dari kebakaran di penghujung tahun 2019 mungkin baru terdeteksi di tahun 2020 dan karenanya dapat berakibat pada meningkatnya kehilangan hutan pada data tahun 2020. Namun tahun 2020 juga mengalami musim kebakaran yang jauh lebih ringan dari tahun-tahun sebelumnya dengan jumlah peringatan kebakaran sampai akhir bulan November “dibawah rata-rata” bila dibandingkan dengan tahun yang normal.

“Beberapa kebijakan Indonesia sepertinya menyumbang kepada penurunan ini, termasuk penegakan hukum yang lebih ditingkatkan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan serta moratorium permanen mengenai pembukaan daerah yang dikategorikan sebagai lahan gambut atau hutan alam primer,” kata laporan tersebut.

Namun laporan juga menggaris bawahi bahwa sistem peringatan GLAD telah mendeteksi beberapa kasus dimana terjadi kehilangan tutupan pohon yang terkait ekspansi perkebunan sawit dan pembalakan di tahun 2020 ini, terutama di Kalimantan, tetapi kebanyakan ini terjadi di luar areal moratorium hutan. Meskipun kehilangan ini sah secara hukum, kehilangan yang terjadi di hutan primer akan memiliki dampak besar pada keanekaragaman hayati dan emisi karbon.

Dalam laporan yang sama, Indonesia ditempatkan pada posisi kelima pada daftar 10 negara dengan kehilangan tutupan pohon terbesar untuk periode 2001-2019 dengan kehilangan mencapai 26,8 juta hektar.

Kehilangan terbesar, 64 juta hektar, terjadi di Rusia, kemudian Brazil dengan 56,6 juta hektar, Kanada dengan 42,9 juta hektar dan Amerik Serikat berada di posisi ke-empat dengan 40,3 juta hektar.

Indonesia juga menempati tempat kedua teratas dalam daftar 10 negara dengan kehilangan hutan primer tropis terbesar untuk periode 2002-2019 dengan 9.5 juta hektar. 

Dikatakan bahwa kebanyakan dari kehilangan tutupan pohon di Indonesia disebabkan oleh produksi komoditas, terutama oleh perkebunan sawit dan hutan industri berskala besar. Kebakaran yang disebabkan oleh ulah manusia terkait kegiatan pertanian juga menyulut kerusakan hutan dengan skala besar dan berakibat kepada asap dan emisi karbon yang berbahaya.

Kebakaran terutama merajalela ketika terjadi fenomena alam El Nino di tahun 1997-1998 dan 2015-2016. Tetapi semenjak 2017, Indonesia memperlihatkan pengurangan besar dalam kehilangan tutupan pohonnya, kelihatannya karena terkait kebijakan pemerintah untuk mencegah pembukaan lahan dan kebakaran.

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Kelapa sawit? Kunjungi The Palm Scribe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This