The Forest Scribe

BPS: Hutan Indonesia Berkurang 1.40% Dalam Kurun Waktu Lima Tahun

Foto: Jason Houston untuk USAID

Sebuah laporan Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) yang dikeluarkan di penghujung tahun 2019 memperlihatkan bahwa luasan tutupan hutan Indonesia berkurang sebesar 1,40 persen dalam kurun waktu lima tahun hingga akhir 2018 menjadi 93.483.291 hektar.

“Luas tutupan hutan yang hilang di Indonesia dalam periode waktu 2014 sampai dengan 2018 berkurang sekitar 1,40 persen atau sebesar 2.685.012 hektar dalam kurun waktu lima tahun,” demikian dikatakan dalam kesimpulan laporan PBS berjudul Sistem Terintegrasi Neraca Lingkungan dan Ekonomi Indonesia 2014-2018.

Laporan tersebut mengatakan bahwa total luas hutan di Indonesia di tahun 2018 adalah 93.483.291 hektar, di mana luas hutan terluas berada di Papua, Kalimantan, dan Sumatera.

Dalam laporan yang menurut Kepala BPS Suhariyanto dimaksudkan untuk “memberikan gambaran tentang dampak pembangunan terhadap ketersediaan dan peranan sumber daya alam dalam aktivitas kegiatan ekonomi” disebutkan terjadi pengurangan luas hutan hampir di semua pulau di Indonesia.

Luas hutan paling banyak berkurang adalah di pulau Sumatera dan Kalimantan. Di Pulau Sumatra, luas hutan berkurang sebesar 1.122.684 hektar sementara di Kalimantan, sebesar 870.273 hektar.

BPS dalam laporan tersebut mengatakan bahwa pengurangan luas tutupan hutan ini dapat diakibatkan karena adanya pengurangan area tutupan hutan terkait adanya peristiwa alam, penebangan hutan, kebakaran hutan atau adanya reklasifikasi.

“Dalam periode waktu 2014-2018 kategori tutupan lahan yang mengalami pengurangan adalah kelas tutupan lahan yang berupa hutan meliputi Hutan Lahan Kering Sekunder, Semak / Belukar, Belukar Rawa, Hutan Rawa Sekunder, dan Tanah Terbuka,” ungkap laporan itu. Sebaliknya kategori tutupan lahan yang mengalami penambahan dalam periode waktu yang sama antara lain Perkebunan, Hutan Lahan Kering Primer, Pemukiman, Tambak, Pertanian Lahan Kering Bercampur Semak dan Pertambangan.

BPS mengatakan bahwa meskipun hutan merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, tetapi dalam pemanfaatan dan pengelolaanya harus tetap memperhatikan keseimbangan dan kelestarian ekosistem. Pengelolaan yang berwawasan lingkungan akan menjamin keberlangsungan fungsi dan peran sumber daya hutan dalam jangka panjang.

“Meningkatnya volume fisik kerusakan dan reklasifikasi serta penebangan kayu rimba luar Jawa selama  periode 2014-2018 yang tidak diimbangi dengan peningkatan volume pertumbuhan dan reklasifikasi (reboisasi dan penanaman) perlu menjadi perhatian pemerintah, mengingat produksi kayu bulat Indonesia sebagian besar berasal dari  luar Jawa, khususnya pada  kawasan hutan produksi yang dekat atau berbatasan secara langsung dengan wilayah  teritorial negara lain yang rawan aktivitas penebangan ilegal,” laporan tersebut mengingatkan.

BPS juga menekankan bahwa telah terjadi penurunan volume fisik penebangan serta kerusakan dan reklasifikasi kayu di Jawa dan mengatakan bahwa hal ini menunjukkan sudah baiknya manajemen pengelolaan hutan yang telah mampu memanfaatkan hutan dengan lestari, walaupun sebenarnya kasus penebangan serta kerusakan dan reklasifikasi kayu masih terus terjadi.

Kelapa Sawit? Kunjungi The Palm Scribe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This